sponsor

Tuesday, 14 May 2013

Jakarta Yang Menyesak Dada

Kami sempat melawat Universitas Indonesia dalam program lawatan sambil dengan Aman Patani. Hari itu Jumaat dan kami menunaikan solat Jumaat di kampus universiti.Jemaahnya cukup ramai.

Hampir tiada ruang kosong. Ada yang solat di atas tanah lapang kawasan mesjid universiti tersebut.




Aku sempat merakamkan gambar Hasan dan Amir dihadapan benteng Universitas Indonesia.

Penduduk Jakarta sangat padat. Di sini terdapat 9.1 juta jiwa yang tinggal di sini.(2011)

Jalan raya penuh sesak dengan kenderaan.Pergerakan kenderaan agak  perlahan dan memenatkan.



Menariknya Kota Jakarta terdapat sukarelawan yang membantu laluan lalu lintas di tengah kesibukan dan mentari panas. Sebagai penghargaan pemandu akan menghulurkan beberapa keping rupiah kepada petugas tidak rasmi ini.


Kami tidak menginap di Kota Jakarta. Di Tangerang. Menurut Pramoedya Ananta Toer, sasterawan Indonesia yang cukup terkenal itu, dalam bukunya,Jalan Raya Pos Jalan Daendels,Tangerang sebagai nama tempat  yang disalah oleh eja. Nama  Tangerang itu warisan Belanda.

Sepatutnya ditulis dan disebut Tanggeran,kata sasterawan besar itu.

Seperti kata Pram," Dan sekarang Tangerang telah menjadi kota industri di samping perdagangan, juga kota pemukiman buruh dan birokrat yang bekerja di Jakarta. Maka lalulintas Tangerang-Jakarta termasuk terpadar di Indonesia, yang mencapai puncaknya pada jam-jam masuk dan keluar kantor."(muka surat 42, cetakan 6,April 2008).






No comments:

Post a Comment

Post a Comment